Tuesday, November 20, 2007

Melapangkan dada

Mengharap dan menantikan suatu keadaan dimana anda mengira akan bisa tenang bahagia karenanya adalah percuma, jikalau anda inginkan kebahagiaan, tidak perlu menunggu suatu keadaan untuk dapat merasakannya, anda bisa bahagia sekarang juga. Jika saat ini, dengan keadaan yang sekarang tidak dapat anda nikmati, maka begitu pula dimasa yang akan datang bagaimanapun keadaan saat itu.


Apa yang anda sukai dan harapkan belum tentu baik bagi anda, sebaliknya yang anda takutkan dan buruk menurut anda bisa jadi itulah yang akan mendatangkan kebaikan yang sebenarnya. Dengan berdzikir, anda akan diberikan kepahaman, pengertian dan rasa menerima. Jika manfaat ini telah anda dapatkan, segala macam masalah dunia dihadapi dengan lapang dada.

Pada saat mengingat masalah yang menyakitkan atau menggangu pikiran anda misalkan, penghasilan yang pas-pasan, keadaan ekonomi terasa menghimpit, pekerjaan yang tidak beres, ditinggalkan kekasih hati dan berbagai masalah lainnya, maka anda akan merasakan kegelisahan dan kesempitan dalam hati.

Nah, bagaimana jika mengingat bahwa anda memiliki penolong yang selalu siap membantu anda, mencintai anda, yang berjanji akan memenuhi segala kebutuhan anda, memberi apapun yang anda minta, menghibur dan menasehati anda dan segala apa yang anda inginkan adalah Dia berkuasa memberikannya, dikarenakan Dia sangat-sangat berkuasa atasnya dan memiliki segala sesuatu. Ketika anda mengingat hal demikian, seluruh permasalahan anda akan tergantikan dengan harapan dan perasaan lapang. Anda tidak akan mendapat semua itu jika hanya menyebut saja, kelapangan dan ketenangan itu hanya menghampiri mereka yang ingat (berdzikir).